Sulitnya Menjadi Warga Miskin

Februari 1, 2008

Pasangan suami istri Sartono Utomo (50 tahun) dan Suliyem (40) harus merelakan tiga ekor kambingnya dijual agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang kian menjepit. Padahal rencananya kambing tersebut akan digunakan sebagai tabungan untuk menikahkan putri keduanya. Lain lagi dengan Mirat (50) seorang tukang becak yang terpaksa merubah dietnya, “Hari ini tempenya satu, besok mie rebus, besoknya kerupuk.” “Perut masih bisa ditahan, namun pendidikan tetap nomor satu.” Prinsip tersebut menjadi pegangan Parjiono (42) yang merelakan santapan ikan asin, lele atau bandeng hanya semingu sekali demi membayar sekolah anaknya yang duduk di bangku SMP dan SMA. Kisah-kisah tersebut tentu bukan bagian dari kisah sinetron Indonesia yang jauh dari realitas masyarakat karena kisah tersebut merupakan kisah nyata yang disarikan dari harian KOMPAS (21/1/2008). 

Lonjakan harga yang terjadi belakangan ini memang membuat deretan kisah-kisah perjuangan hidup rakyat Indonesia semakin bertambah panjang. Data yang diperoleh dari departemen perdagangan menunjukkan adanya lonjakan harga yang diluar kebiasaan pada awal tahun 2008. Hingga kini belum ada tanda-tanda kondisi harga akan membaik. Bahkan dikhawatirkan akan berlanjut hingga selepas PEMILU 2009. Sayang, belum ada analisis yang menyatakan apakah kenaikan tersebut akan tetap berlangsung selepas 2009 dengan Presiden yang sama atau tidak. Pemerintah pun tampak kebingunan untuk mengatasi kenaikan harga tersebut hingga Rabu (30/1) kemarin memanggil para pengusaha datang ke istana serta merencanakan kebijakan stabilisasi harga (padahal menteri-menterinya pro-pasar). 

Sebagian dari kita mungkin tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan harga serta keresahan yang terjadi di masyarakat bahwa dan pemerintah saat ini. Mungkin juga disebabkan oleh media massa yang terlalu asyik mengabarkan masa kritis mantan Presiden Soeharto hingga detik-detik pemakamannya. Belum lagi ditambah dengan menampilkan testimoni dari teman masa kecil the smilling general hingga artis-artis ABG yang hanya tau bahwa Pak Harto itu orang baik, tanpa mengetahui apa saja prestasi mantan penguasa orde baru tersebut. Kilasan media yang terlalu berlebihan tersebut sampai mengundang kritik dari pegamat komunikasi politik Aa’ Pendi (Efendi Ghazali) dan aktivis eksponen 77-78. Bahkan, Sjahrir, aktivis angkatan 66 menilai, kuatnya pencitraan Soeharto secara berlebihan tidak terlepas dari pengaruh kekuatan kapital. Saat ini, sejumlah media massa dikusai oleh anggota keluarga Cendana, baik secara langsung maupun tidak langsung.(KOMPAS, 31/1/08). 

Masa berkabung memang belum selesai dan penghormatan terhadap jasa (dan pelajaran dari kesalahan) Pak Harto tidak pernah boleh berhenti. Akan tetapi, ada baiknya kita berhenti menyaksikan infotaiment dan mematikan sejenak televisi (publikasi berlebihan tentang Soeharto memang bersumber dari sini). Baca koran dan lihat kembali sekitar kita. Karena banyak pula pelajaran yang bisa kita petik dari kisah yang serupa dengan Pak Parjiono. Jika belum mengerti juga dengan pelajaran tersebut dan ingin mengambil sumber lain, coba buka internet. Buka situs http://www.unicef.org/voy/explore/rights/explore_3142.html dan klik permainan “Ayiti : The Cost of LIfe” .Cobalah mainkan dan kalau bisa menangkan. Saya pun sudah berkali-kali mencoba dan selalu berakhir dengan kegagalan. Permainan dengan tampilan grafis sederhana tersebut paling tidak bisa memberikan gambaran betapa sulitnya menjadi keluarga yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. 

Permaian menarik yang dikembangkan oleh UNICEFF tersebut bercerita tentang kisah hidup sebuah keluarga di negara dunia ketiga (di daerah tropis pula) yang memiliki modal pas-pasan. Di awal permainan anda akan ditanya, parameter keberhasilan permainan apa yang akan digunakan. Ada empat pilihan , yaitu health (kesehatan), education (pendidikan), happiness (kebahagiaan), money (uang). Agar bisa memenangkan permainan, maka anda harus mencoba bertahan hidup seraya memperhatikan aspek yang telah dipilih. Ketika anda mulai bermain, anda akan segera sadar bahwa ternyata tidak ada banyak pilihan yang bisa dibuat ketika hidup dalam kemiskinan. Setelah mencoba beberapa kali, saya mendapati bahwa keluarga yang saya mainkan tidak pernah bisa bertahan hidup melewati tahun keempat. Setelah tokoh ayah dan ibu dalam keluarga tersebut dinyatakan tewas (karena sakit keras yang tidak terobati) maka permainan berakhir. Kuesioner kemudian akan disodorkan yang isinya semakin meyakinkan kita bahwa lingkaran kemiskinan itu memang ada.Sungguh sulit untuk hidup sebagai orang miskin. Itulah mungkin hikmah yang bisa diambil dari permaian tersebut.   

Kemiskinan memang ada dan merupakan sesuatu yang harus dihadapi bangsa ini. Di Jawa Barat sendiri, menurut laporan BKKBN terdapat 29 % keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Jika dihitung secara individu, ada 10,7 juta penduduk miskin dari total 39 juta jiwa penduduk Jawa Barat. Angka yang tidak bisa dibilang sedikit. Kini setelah membaca, melihat dan mencoba merasakan (meskipun dalam permainan) apa yang akan anda lakukan? Sebuah pertanyaan yang selalu muncul yang saya sendiri pun kini sedang mencoba menjawabnya. 

Bandung, 31 Januari 2008

Entry Filed under: Kesejahteraan. Tag: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Februari 2008
S S R K J S M
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Most Recent Posts